cool hit counter

PDM Kota Blitar - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Blitar
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah PDM Blitar

SEJARAH AWAL PERGERAKAN MUHAMMADIYAH DI BLITAR
 <

Ada dua versi tentang berdirinya Muhammadiyah Blitar, sebagaimana yang dituturkan oleh dua sesepuh (orang tua) Muhammadiyah yaitu H. Moh Salim dan H. Sumardi.

Menurut HM Salim, Muhammadiyah Blitar berdiri sekitar tahun 1921, dengan tokohnya adalah H. Tamar, Kasan Mukmin, HA Muhammad (ayahanda HM Salim), Noto Ilham, Kasan dan Abdulrahim.

 Sedang menurut H. Sumardi, Muhammadiyah Blitar baru berdiri tahun 1928. tokoh penggerak pada masa awal berdirinya adalah Mangun Suryo, Hadi Wasito, Parto Mukri (ayahanda H.Sumardi) dan Noto Ilham. Yang menarik dari kedua sumber itu bahwa, berdirinya Muhammadiyah Blitar tidak lepas dari sentuhan tokoh bernama Abu Suja’, baik sebagai muballigh maupun guru.

 Tahun berdirinya Muhammadiyah yang boleh jadi benar adalah 1921, sebab pada 1924 kakak HM Salim sudah masuk sekolah Muhammadiyah, dan dia sendiri masuk sekolah Muhammadiyah baru 1925. Pada waktu Muhammadiyah berdiri, dia berumur antara 4-5 tahun. Selain itu pada 1927 Muhammadiyah Blitar sudah berstatus cabang. (keterangan lebih lanjut dapat dibaca di BTMHT tahun 1927, hal 33)

 Cabang Muhammadiyah Blitar ternyata cukup dinamis, antara lain tahun 1927 mengutus Sastrowahono ke Pekalongan untuk menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-16 dan Abu Suja’ ke Jogjakarta untuk menghadiri Konferensi Muhammadiyah Bagian Tabligh. Selain itu pengurus melakukan turba ke Trenggalek, Wlingi, Bangsar, Ponggok, dan Lodoyo dalam melakukan pembinaan Ranting. (BTMHT 1927, hal 104-118)

 Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan modernisasi kehidupan masyarakat Indonesia. Tiga pilar penting dalam perintisan awal Muhammadiyah kala itu, yaitu (1) gerakan Pendidikan Islam modern, (2) gerakan PKOE (Penolong Kesengsaraan Oemoem), dan (3) gerakan Tabligh (penyiaran dan dakwah Islam). Ketiga bidang gerakan tersebut saling menopang satu sama lain, yang satu tidak lebih penting dari yang lainnya.

 Gerakan Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah Kota Blitar diawali dengan pendidikan/sekolah setingkat MI di Jalan Kelud, Kampung Maduran dengan gurunya Bp. Sudjak (guru agama), Bp. Djadi (guru umum) dan guru bahasa Belanda bernama Menier Sutadji. Seperti diketahui pendidikan model Muhammadiyah adalah paduan kurikulum pendidikan umum (ilmu pasti), bahasa (jawa, belanda, melayu, arab), dan pendidikan agama Islam (belajar baca tulis Quran, tafsir al-maun, fiqh, tarikh). Tahun 1937, sekolah pindah di rumah Bp. Sayudi di sebelah timur alun-alun Kota Blitar. Kemudian tahun 1945 pindah ke Jalan Cokroaminoto 3-5 dengan menyewa dari orang asing, lalu tahun 1970 menjadi HGB (hak guna bangunan). Dan tahun 1985 sudah dapat dibeli menjadi hak milik dan ditempati hingga sekarang. Di tanah ini, berdirilah SD, SMP, SMA hingga Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah.

 Gerakan PKOE (Penolong Kesengsaraan Oemoem) Muhammadiyah Blitar tahun 1955 telah melakukan kegiatan anak asuh di Jalan Veteran 12, di bawah asuhan Bp. A. Khusairi. Waktu berjalan, ternyata anak asuh yang dibina semakin sedikit, diputuskan untuk dititipkan ke keluarga warga Muhammadiyah. Perkembangan menarik berikutnya pada tahun 1970 didirikan panti asuhan putra-putri Muhammadiyah di Jalan Ir. Sukarno no 11 dan 38 sampai sekarang.

 Pada tahun 1957 dirintislah Pondok Bersalin. Berkat keuletan dan ketabahan pengelolanya, tahun 70-an dikembangkan menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA). Dan akhirnya kinipun, pada 2006 didirikan pula Rumah Sakit Umum (RSU) Aminah di Jalan Veteran 39 kota Blitar.

 Dalam gerakan penyiaran Islam/ Tabligh, Muhammadiyah menyelenggarakan pengajian-pengajian (tabligh) secara menyatu dengan tiga pilar gerakan lainnya. Pengajian-pengajian tersebut yang menjadi kekuatan penggerak Muhammadiyah yang membangkitkan daya umat dan masyarakat. Era awal, warga Muhammadiyah masih mengikuti pengajian di Sumberpucung (dekat stasiun kereta) yang beberapa kali dihadiri langsung oleh KH. Ahmad Dahlan.

 Setelah anggota pengajian semakin banyak, Muhammadiyah mengadakan pengajian sendiri dengan menghadirkan muballigh langsung dari Yogyakarta (HB/pengurus pusat) yaitu Bp. H. Abdul Azis, dalam pengajian biasanya dilanjutkan dialog. Faham Muhammadiyah tidak langsung mendapat respon positif oleh masyarakat, tetapi dengan ketekunan dan keuletan para penyebarnya secara perlahan memperoleh simpati dari masyarakat.

 Pendahulu Muhammadiyah kala itu yang cukup terkenal diantaranya: Noto Ilham, Mangun Suwiryo, Djoyotaruno, Darmosarono, Parto Mukri, Sastrowahono, Maksum, Hadiwarsito. Mereka terkenal sebagai penggerak dan pendorong Muhammadiyah Blitar setelah mengikuti pengajian-pengajian langsung dari KH. Ahmad Dahlan di Sumberpucung, Malang.

 Waktu terus berjalan, warga Muhammadiyah semakin bertambah, selain nama-nama di atas diantaranya adalah Akhiyat, Alifi, Moh Daenuri, Tahsis, Slamet Hadikusumo, Muasir, Birun, A Kusairi, Bustami, Abdul Wahid, Harjowisastro, Mahsus, M Sahal, Ishak, Tonomarto Suwignyo, Abu Amar, Karto Kasimun, R Sosrowijoyo, Barnawi, Pudjohartono, Asrap, Pulungan, Yasman, Padmodiharjo, Djokowaluyo, Djoko Utomo, Sutudi, Suyadi, Fadil, Suseno, R Suligi, Wasil, dll.

Berdirinya PETA juga tidak lepas dari peran pemimpin umat Islam. Dari 69 Daidancho  (Komandan Batalyon) di Jawa Bali, 66 diantaranya adalah Muslim. Banyak yang memegang peran penting dalam perjuangan bersenjata dan politik bangsa Indonesia untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Diantaranya bernama Surahmat dari Blitar, yang seangkatan dengan Mr. Kasman Singodimedjo dari Jakarta, Sudirman dari Kroya yang dua tahun kemudian menjadi Panglima Besar TNI, KHRM. Mulyadi Joyomartono dari Surakarta, dan Trunojoyo dari Ketapang. (dalam buku Islam pada Masa Pendudukan Jepang, Shiddiqi: 74, dan buku Pemberontakan Tentara Peta, Suryanegara: 110-118 dan 150)

 Angkatan Muda yang bergabung dalam GPII th 1957 diantaranya Marchum Fuadi, Abdul Hamid, Tamam bin Bardan, MB.Prayitno, Qomari, Suwoto, M. Zahid, Supardi, M. Sidik dan Syamsuka.

Yang tergabung dalam Pemuda Muhammadiyah saat itu yaitu:

Muh Ansor, Muh Yantonis, Subiyanto, Slamet Yusuf, Sri Andari, Masjruhin, Najemu, Moh Sundarto, Moh Ali Nurdin, Moh Nurman HD, Budi Sulistyo, Budi Handaru, Budi Setiawan, Ahmadi, Cuk Sumantri, Agus Sahadi, Darmo, Imam Mukarom, M Chafif AR BA, Moh Thohir, Mufrodi, Munandar, Moh Muhdi, Moh Sudarminto.

 Ketika digelar Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada 1964, ada sebagian delegasi Arab yang berkunjung ke Blitar. Pemerintah dan Pengurus Muhammadiyah Blitar menyambut bersama, dengan mendatangkan Drumband Pemuda Muhammadiyah Sumberpucung dan Drumband Nasyiatul Aisyiyah Kepanjen. Blitar digemparkan dengan dua unit drumband itu yang dimainkan dengan penuh semangat, tertib dan kompak. Hasilnya nama Muhammadiyah Blitar kian dikenal masyarakat.

 Sejak tahun 1960, dengan berkembangnya jumlah cabang dan ranting yang didirikan, Muhammadiyah dikembangkan menjadi Daerah.

Periode

Tahun

Ketua PDM Blitar

I

1960-1965

Darmosarono

II

1965-1970

Partomukri

III

1970-1975

Bustami

IV

1975-1980

Abdul Wahid

V

1980-1985

Tonomarto Suwignyo

VI

1985-1990

Abdurrahman Suryo

VII

1990-1995

M. Yasin Sulthon BA

VIII

1995-2000

HM. Chafif AR. BA

IX

2000-2005

H. Marmin Siswojo

X

2005-2010

Pemekaran kota dan kab
PDM Kota Blitar diketuai Drs. H. Masjruhin
PDM Kab  Blitar diketuai H. Marmin Siswojo

XI

2010-2015

Rusdi Riyanto, S.Ag

 


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website